Option

Rabu, 11 Juli 2012

resensi novel bidadari-bidadari surga


bidadari-bidadari-surga-cover-buku3.jpgJudul buku                  :           Bidadari-Bidadari Surga                 
Pengarang                   :           Tere Liye
Penerbit                       :           Republika
Kota tempat terbit       :           Jakarta
Tahun terbit                 :           2012
Tebal                           :           367 halaman/2,3 cm
Harga                          :           Rp 65.000,00


"Ya Allah sungguh sejak kecil ia selalu menyimpan semuanya sendiri. Sungguh demi adiknya Dalimunte, Wibisana, Ikanuri, dan Yashinta. Demi kehidupan mereka yang lebih baik. Laisa rela melakukanya. Lembah Lahambai merupakan tempat mereka menemukan semua janji kehidupan, segala tetek bengek kajadian, suka cita mereka jalani".
Laisa adalah kakak dari keempat adiknya, meskipun dia tidak mempunyai hubungan darah dengan keempat adiknya ia sangat mencintai dan menyayangi adik-adiknya dan rela melakukan apapun demi adik-adiknya.
Kak Laisa merupakan seorang anak yang terlahir normal, namun ketika dia masih berumur enam bulan kedua orang tuanya berpisah, kemudian ayahnya menikah lagi dengan seorang perempuan yaitu ibu dari Dalimunte, Wibisama, Ikanuri, dan Yashinta (ketika mereka belum lahir). Ketika berumur sembilan bulan Laisa pernah terenam di baskom ketikan sang ibu tiri pergi kekebun, itulah yang menyebabkan pertumbuhan laisa tidak normal dan itu semua disebabkan karena ulah ayahnya. Meskipun Laisa tidak memiliki hubungan darah dengan ibunya, namun sang ibu sudah menganggap Laisa seperti anak kandungnya sendiri.
Laisa merupakan seseorang kakak yang keras dan tegas kepada adik-adiknya, Laisa melakukan itu semua agar adik-adiknya bisa mendapatkan janji kehidupan yang  lebih baik. Kak Laisa rela mengorbankan sekolanya demi membantu ibunya mencari nafkan dan menyekolahkan adik-adiknya. Itu semua Terbukti, akhirnya keempat adiknya berhasil dan sukses. Namun, tak semua orang tau bahwa dibalik pengorbanan dan kerja kerasnya ternyata kak Laisa menyimpan sebuah penderitaan besar yang menghantarkan ia ke akhir kehidupanya, yaa.. kanker paru-paru yang menyebabkan kak Laisa pergi setelah adik-adiknya memenuhi janji kehidupan yang lebih baik itu. Suatu ketika Ikanuri dan Wibisama (adik Laisa yang paling nakal), kabur dan mencuri  mangga  wak Burhan ketika seluruh warga desa sedang bergotong royong dalam membuat kincir angin untuk mengangkat air dengan bantuan angin. Mengetahui ulah adiknya tersebut, kak laisa marah dan memukul keduanya dengan ranting. Ikanuri dan Wibisama pun melawan dan berkata” kak Laisa bukan kakak kami, dari tampang pun berbeda, kak Laisa lebih jelek, pendek hitam dan dekil, kak Laisa bukan kakak kami” Mendengar perkataan adiknya kak Laisa tersentak dan tak dapat berkata apa. Lalu Ikanuri dan Wibisama memutuskan untuk pergi dari desa.
Setelah membaca novel ini tentu kita tau nuansa apa ynag di suguhkan oleh penulis, yaitu nuansa pengorbanan seorang kakak demi adik-adiknya hingga janji kehidupan itu ditepati. Pengorbanan yang sangat luar biasa yang diberikan oleh kak Laisa kepada adik-adkinya. Gaya bahasa dari novel ini sangat sederhana dan menarik, itu yang menyebabkan pembaca mudah memahami apa yang di sampaikan penulis, kelebihan yang lain yaitu terdapat pada deskripsi tokoh, latar dan tempat yang sangat detail, sehingga pembaca juga dapat merasakan apa yang tergambar  didalamnya, konflik yang disuguhkan pun sangat bagus karena dapat membangkitkan emosi pembaca. Contohnya pada bagian Ikanuri dan Wibisama tersesat di hutan pada saat mereka memutuskan untuk kabur  dari rumah dan di dalam hutan mereka terjebak oleh sang penjaga hutan yaitu seekor Harimau yang sangat ganas. kak Laisa mengumpulkan segenap kamampuan dan keberanian untuk menyelamatkan ke dua adiknya hingga akhirnya Wibisama dan Ikanuri selamat dari terkaman Harimau. Kekurangan dari novel ini yaitu tokoh emak kurang di tonjolkan sehingga sosok emak dalam cerita kurang berperan. Satu lagi kelebihan novel ini. Pembaca tidak akan bosan membaca kehidupan di pondok karena penulis rupaya menggunakan alur campuran. Ia memulai cerita dengan mengambil setting adik-adik Laisa yang sudah berhasil dan sukses lalu mulai masuk ke dalam ingatan-ingatan ketika Laisa mengorbahkan segalanya untuk adik-adiknya di kehidupan saat di lembah Lahambai.
Menurut pendapat saya novel ini sangat bagus karena dapat membangun motivasi, dan tokoh kak Laisa dapat menjadi inspirasi terutama kepada seorang kakak untuk adik-adiknya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar